Yang tersabar, sahabatku,

Ocin, gadis manis bergigi gingsul ini adalah sahabatku. Dulu, aku lebih tinggi darinya tapi sekarang tinggi badannya melampaui tinggi badanku. Gadis berkulit putih ini memiliki nama lengkap Uray Oci Melisa. Ocin panggilan kesayangan dari keluarganya. Ya memang aku akui, ia agak sedikit lambat berpikir. Lemot, kalau kata anak anak sekarang. 11 Oktober kemarin ia genap berusia 19 tahun. Aku setahun lebih muda darinya, tapi kami satu angkatan.



Kami bersahabat sedari di bangku sekolah dasar, tepatnya kami bertemu di MIN Pemangkat. Ya memang tidak satu kelas, tapi orang tua ku dan orang tua nya saling mengenal satu sama lain. Kemudian saat di Sekolah Menengah Atas kebetulan sekali aku dan Ocin berada di kelas yang sama, semenjak itu aku dan dia menjadi sangat akrab. Dan kami juga mengikuti ekstrakurikuler yang sama saat itu, yaitu drumband. Saat di Sekolah Menengah Pertama aku dan dia juga memilih sekolah yang sama. Sayangnya kali ini kami beda kelas, tapi tetap satu jurusan. Di SMA ini kami juga mengikuti ekstrakurikuler yang sama, drumband lagi.


Aku dan Ocin memiliki sifat dan kepribadian yang bertolak belakang. Aku manusia yang emosian, keras kepala dan terbilang kasar ini bersahabat dengan Ocin yang lemah lembut, pengertian dan penyabar. Walau kerap kali aku tidak sengaja meluapkan emosi ke dia, dia sama sekali tak pernah ambil hati. Alasan orang jarang ingin berteman denganku ialah tidak lain karena sifatku yang kasar dan emosian ini. Tapi Ocin sama sekali tak tergubris dengan sifatku yang terbilang buruk ini. Ku bilang dia anaknya polos sekali, ya karena kalau dibohongi dia langsung percaya. Dia salah satu manusia tersabar yang aku kenal. Ntah apa yang membuatnya tahan berteman dengan aku si pemarah ini, aku masih heran.

Dia juga seorang pendengar yang baik, itulah salah satu alasan aku sangat menyayanginya. Aku tipe orang yang sangat senang menceritakan hal hal kecil tidak penting, kebanyakan orang mungkin akan muak dengan ku dan cerita cerita tidak pentingku, tapi sekali lagi dia tidak. Dia punya respon baik atas semua cerita ceritaku. Walau di SMA aku sangat sibuk berorganisasi sampai kadang lupa untuk sekedar singgah kerumah nya, dia tak pernah sedikit pun mengungkit ungkit hal itu. Setiap kali aku ajak kemana pun, dia akan selalu mengiyakan permintaanku. Walau kadang kami hanya berkeliling kota Pemangkat jelas.

Dia dan keluarganya sangat sederhana. Ocin anak kedua dari 3 bersaudara. Dia bergelar Uray, keturunan sultan Sambas. Dia memiliki seorang abang dan dan adik laki laki. Ya dia satu satunya anak perempuan kesayangan ibunya. Di keluarga ini aku sudah dianggap anak sendiri oleh ibunya. Tak jarang aku selalu datang kerumahnya hanya untuk sekedar bercerita. Semenjak tinggal sendirian di kelas 11, ibu Ocin kerap sekali berpesan agar aku makan dirumah mereka saja. “Kalau sama sekali ga punya uang, ke rumah aja makan. Ga usah malu malu, kamu itu anak mak juga” kata ibunya. Dan aku di beri kepercayaan penuh oleh ibu dan ayah nya. Jika ingin kemana mana ibunya selalu bilang “Kalau ada Puput mak izinkan.” Ya karena Ocin ini sangat sangat polos, tidak tau menau.  Karena kepolosan yang ia miliki ini, aku agak sedikit was was tentang masalah percintaan yang Ocin miliki. Kerap kali aku berpesan, “Kalau ada cowok yang deketin kamu, bilang aku dulu.” Ya untuk jaga jaga, takut saja terjadi hal hal buruk ke dia. Karena yang pertama kali ditanya ibunya pasti aku. Untungnya, sekian lama bersahabat aku dan dia tidak pernah suka dengan cowok yang sama.



2020 adalah tahun terberat untukku pribadi, dimana aku kehilangan banyak hal berarti. Salah satu yang menjadi penguatku adalah Ocin dan keluarga. Ocin berperan besar di 2020 ini. Jika sendirian, aku tak mungkin bertahan sejauh ini. Aku merasa, aku hanya menjadi beban untuknya dan keluarganya. Tapi hal itu selalu terbantahkan. Aku selalu diterima dengan baik setiap aku datang kerumahnya. Selalu diberikan pesan untuk jangan menyerah. Bahkan terakhir kali aku berpamitan dengan ibunya untuk pindah ke Pontianak, ibunya memberikan satu pesan yang tiap kali aku mengingatnya aku pasti menangis. “Semangat kuliah, jangan pernah berpikir buat nyerah. Seberat apapun tugas kerjakan. Pasti semua ada jawaban. Semua pasti selesai.” Tiap kali merasa berat sekali akan tugas, aku selalu mengingat pesan itu.

Sayangnya, saat masuk dunia perkuliahan ini aku dan Ocin harus berpisah. Awalnya, kami berdua memang memiliki cita cita yang sama. Yaitu menjadi seorang guru. Tapi sayangnya, Ocin mengambil jurusan yang berbeda, yaitu multimedia. Dan lokasi perkuliahan kami juga berbeda. Ia berkuliah di Sambas dan aku di Pontianak. Di perkuliahan ini kami benar benar berjarak. Sangat jauh sekali. Tapi aku seringkali ingin pulang ke Pemangkat hanya ingin bertemu dengannya. Terakhir kali aku pulang ke Pemangkat hanya untuk memberi sebuah kejutan saat ulang tahunnya. Walau terpaut waktu bulan, tapi ia tetap menerima nya. Karena tidak bisa bertemu langsung seperti dulu, aku kerap kali menelpon dia untuk bercerita tentang hari hari dan hal hal yang ku lalui tanpa dia disini.

Dihitung-hitung aku dan Ocin telah bersahabat selama 13 tahun. Suka duka hidupku Ocin adalah salah satu saksinya. Rahasia rahasia terbesarku juga ada padanya. Tak lepas semua masalah masalahku yang ikut menjadi beban pikirannya. Aku kadang bertanya, mengapa dia tahan selama 13 tahun bersahabat dengan seseorang seperti Puput ini. Yang mungkin sangat menjengkelkan. Marah tidak jelas, nangis tidak jelas, kerap kali emosi. Suatu waktu aku mengajukan pertanyaan tersebut kepadanya. Dan ia menjawab “Kan memang kamu udah seperti itu. Ya itulah kamu. Memang sudah mendarah daging. Trus aku harus rubah kamu? Kan gabisa. Ya satu satunya cara aku nerima kamu. Baik buruk kamu.” “Kalo kamu lagi emosi atau marah, aku tinggal diam aja. Ya nanti kamu pasti bakal baik lagi.” Jawabannya agak membuatku tersentak. Mengapa ada orang sesabar dia.



Ocin terima kasih 13 tahun ini. Terima kasih selalu sabar dan pengertian. Terima kasih semua support dan semangat selama ini. Maaf jika aku terlalu menyebalkan selama menjadi sahabatmu. Kali ini maaf harus berpisah, tapi kita ga pisah. Cuma pisah jarak aja. Terima kasih udah nerima baik dan buruknya seorang Putri Amalia Nurmizan. Maaf Ocin, aku tipe orang yang jarang bilang sayang ke orang lain. Ya karna memang aneh. And you know that lah ya. Sehat sehat selalu. Tetap jadi orang baik. Semoga selalu dalam lindungan Allah.

Mungkin hanya itu saja yang dapat ku tuliskan. Sekian.